Tampilan situs berita Viva
Di era digital sekarang, membaca berita seharusnya jadi aktivitas yang cepat, nyaman, dan informatif. Tapi sayangnya, pengalaman itu sering rusak gara-gara satu hal: iklan yang kebanyakan dan penempatannya tidak ramah pembaca.
Kalau kita buka beberapa situs berita besar di Indonesia seperti Kompas.com atau Detik.com, sebenarnya kontennya bagus dan update. Tapi jujur saja, sering kali sebelum sempat fokus membaca, kita sudah disambut berbagai gangguan: pop-up tiba-tiba muncul, iklan menutupi teks, sampai banner yang bikin halaman terasa sesak.
Yang paling menyebalkan adalah iklan pop-up yang sulit ditutup. Tombol “X” kecil, kadang tidak responsif, bahkan kalau salah klik sedikit saja malah membuka tab baru. Belum lagi iklan yang muncul di tengah-tengah artikel. Lagi enak baca, tiba-tiba kepotong banner besar. Alur membaca jadi putus.
Strategi Pageview yang Melelahkan
Dan satu lagi yang bikin makin jengkel: artikel yang dipotong-potong jadi beberapa halaman. Salah satu yang sering dikeluhkan pembaca adalah gaya seperti yang ada di Tribunnews. Baru baca sedikit, sudah harus klik “halaman berikutnya”. Tujuannya jelas: mengejar pageview sebanyak mungkin.
Masalahnya, strategi seperti ini justru merusak pengalaman membaca. Bukannya membuat pembaca betah, malah bikin capek dan kesal. Banyak orang akhirnya memilih keluar sebelum selesai membaca, atau bahkan menghindari situs tersebut di kemudian hari.
Ada banyak cara yang lebih elegan dan tetap menghargai pembaca:
Pada akhirnya, ini soal keseimbangan. Media butuh uang, pembaca butuh kenyamanan. Kalau dua-duanya bisa dijaga, semua pihak diuntungkan. Berita yang bagus pun jadi terasa buruk kalau cara menyajikannya mengganggu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar