Cari Blog Ini

Senin, 02 Februari 2026

Friendster yang Tak Kunjung Bangkit

 Senin, 02 Februari 2026
Isu kebangkitan media sosial Friendster sempat ramai dibicarakan pada akhir Januari 2024. Saat itu, nama Friendster kembali muncul di linimasa dan berbagai ruang diskusi, memancing nostalgia banyak orang, termasuk saya. Media sosial yang dulu pernah berjaya ini dikabarkan akan bangkit lagi dengan wajah baru, seolah menawarkan harapan di tengah kejenuhan terhadap platform yang itu-itu saja.

Antusiasme publik kala itu cukup terasa. Untuk mendapatkan akses lebih awal, calon pengguna diminta mengundang sebanyak mungkin teman melalui email. Pola ini terasa klasik, khas strategi media sosial era lama. Saya pun ikut mencoba peruntungan. Bahkan, demi meningkatkan peluang, saya mendaftar menggunakan sekitar 10 email milik saya sendiri dengan harapan bisa masuk daftar prioritas.

Sayangnya, harapan itu tidak pernah benar-benar mendapat jawaban. Waktu berjalan, dan kini sudah tahun 2026. Tidak ada undangan lanjutan, tidak ada pengumuman resmi, bahkan kabar singkat soal kelanjutan proyek ini pun nyaris tidak terdengar. Friendster kembali menjadi tanda tanya: masih disiapkan secara serius, atau sebenarnya sudah lama ditinggalkan?

Bagi saya, ketertarikan mendaftar Friendster bukan sekadar ikut tren nostalgia. Ada alasan yang lebih praktis. Saya sudah cukup jenuh dengan Facebook. Linimasa terasa penuh dengan konten yang asal lewat, minim nilai, dan sering kali tidak memberikan manfaat selain sekadar mengisi ruang.

Kondisi ini diperparah dengan maraknya akun-akun FB Pro yang fokus mengejar monetisasi. Konten dibuat seadanya, diunggah berulang, dan diproduksi massal demi algoritma. Akibatnya, ruang diskusi semakin sempit, sementara konten dangkal justru mendominasi beranda.

Di titik inilah Friendster terasa menarik bagi saya. Sekitar tahun 2007 atau 2008, Friendster adalah fase awal saya memiliki akun media sosial. Meski dulu saya tidak terlalu aktif—karena lebih banyak menghabiskan waktu untuk ngeblog—Friendster tetap menyimpan memori personal tentang masa ketika media sosial masih terasa sederhana dan tidak terlalu bising.

Kini, tanpa kejelasan arah dan komunikasi yang terbuka, wacana kebangkitan Friendster terasa makin samar. Jika memang akan kembali, publik tentu pantas mendapat kejelasan. Jika tidak, sebaiknya juga disampaikan apa adanya. Bagi saya, kisah Friendster ini menjadi pengingat bahwa nostalgia memang bisa memancing antusiasme, tetapi tanpa komitmen nyata, ia hanya akan berakhir sebagai wacana sesaat.

logoblog

Thanks for reading Friendster yang Tak Kunjung Bangkit

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar