Hari Minggu, 1 September 2019 yang biasanya jadi waktu paling sepi di mess, kali ini justru berubah jadi salah satu hari yang paling berkesan. Pagi itu nggak ada agenda apa-apa. Teman-teman banyak yang keluar, dan saya memilih santai saja di kamar—menikmati sunyi yang kadang justru terasa terlalu panjang.
Siang menjelang, tiba-tiba suasana berubah.
Pintu mess diketuk, dan muncul sosok yang sudah tidak asing—Pak Priyo, driver kantor yang terkenal ramah, bertubuh gempal, dan logat Tegal-nya yang khas. Beliau datang mencari kunci mobil. Katanya, anak-anak mess sebelah mau jalan ke Ancol.
Entah kenapa, spontan saja saya nyeletuk,
“Pak, ikut boleh nggak?”
Tanpa pikir panjang, beliau jawab santai, “Ya boleh lah!”
Tanpa persiapan, tanpa rencana, tanpa ribet. Saya langsung ganti kaus dan celana, dan tak lama kemudian kami berempat sudah dalam perjalanan. Inilah mungkin definisi paling nyata dari wisata dadakan.
Sesampainya di Ancol, kami langsung menuju Pantai Ria. Angin laut langsung menyambut, membawa aroma khas pesisir yang entah kenapa selalu bikin pikiran lebih ringan.
Siang menjelang, tiba-tiba suasana berubah.
Pintu mess diketuk, dan muncul sosok yang sudah tidak asing—Pak Priyo, driver kantor yang terkenal ramah, bertubuh gempal, dan logat Tegal-nya yang khas. Beliau datang mencari kunci mobil. Katanya, anak-anak mess sebelah mau jalan ke Ancol.
Entah kenapa, spontan saja saya nyeletuk,
“Pak, ikut boleh nggak?”
Tanpa pikir panjang, beliau jawab santai, “Ya boleh lah!”
Tanpa persiapan, tanpa rencana, tanpa ribet. Saya langsung ganti kaus dan celana, dan tak lama kemudian kami berempat sudah dalam perjalanan. Inilah mungkin definisi paling nyata dari wisata dadakan.
Sesampainya di Ancol, kami langsung menuju Pantai Ria. Angin laut langsung menyambut, membawa aroma khas pesisir yang entah kenapa selalu bikin pikiran lebih ringan.
Kami naik perahu, menyusuri perairan dengan santai. Ombak kecil, suara mesin perahu, dan tawa ringan di antara kami membuat suasana terasa hidup. Momen sederhana, tapi terasa mahal.
Setelah puas, perjalanan dilanjutkan ke Pantai Carnaval. Di sini suasananya lebih ramai, lebih “hidup”. Kami habiskan waktu dengan foto-foto, jajan es, dan menyeruput kopi sambil menikmati angin laut yang mulai terasa lebih sejuk.
Sore mulai turun, dan kami sepakat untuk pulang. Tapi seperti biasa, perjalanan hari itu seolah belum ingin berakhir.
Di tengah jalan, karena arah pulang ke mess kami searah, muncul ide dadakan lagi: mampir ke rumah Si Pitung di kawasan Marunda, tepatnya di sekitar Jl. Kampung Marunda Pulo, Jakarta Utara.
Di sana, suasana berubah jadi lebih tenang. Kami duduk santai, menikmati udara pesisir yang berbeda dari Ancol—lebih sepi, lebih “asli”. Obrolan ngalor-ngidul, ditemani angin sore, serta menjelajahi isi dalaman rumah Si Pitung jadi penutup yang pas… atau setidaknya kami pikir begitu.
Ternyata belum.
Dalam perjalanan pulang, ide dadakan kembali muncul—dan kali ini agak nyeleneh: lanjut ke Jembatan Cinta di Bekasi.
Meski waktu sudah mendekati maghrib, kami tetap mampir sebentar. Tidak lama memang—hanya foto-foto, menikmati pemandangan, lalu sempat naik perahu menuju kawasan mangrove di Sungai Rindu, Sembilangan.
Langit sudah mulai meredup, warna jingga perlahan hilang, and suasana berubah jadi syahdu.
Akhirnya, perjalanan benar-benar selesai. Kami kembali ke mess dengan badan lelah, tapi hati justru terasa penuh.
Hari itu mengajarkan satu hal sederhana:
kadang momen terbaik justru datang tanpa rencana.
Dan Minggu yang awalnya sepi, berubah jadi cerita yang layak untuk dikenang lama.
Setelah puas, perjalanan dilanjutkan ke Pantai Carnaval. Di sini suasananya lebih ramai, lebih “hidup”. Kami habiskan waktu dengan foto-foto, jajan es, dan menyeruput kopi sambil menikmati angin laut yang mulai terasa lebih sejuk.
Sore mulai turun, dan kami sepakat untuk pulang. Tapi seperti biasa, perjalanan hari itu seolah belum ingin berakhir.
Di tengah jalan, karena arah pulang ke mess kami searah, muncul ide dadakan lagi: mampir ke rumah Si Pitung di kawasan Marunda, tepatnya di sekitar Jl. Kampung Marunda Pulo, Jakarta Utara.
Di sana, suasana berubah jadi lebih tenang. Kami duduk santai, menikmati udara pesisir yang berbeda dari Ancol—lebih sepi, lebih “asli”. Obrolan ngalor-ngidul, ditemani angin sore, serta menjelajahi isi dalaman rumah Si Pitung jadi penutup yang pas… atau setidaknya kami pikir begitu.
Ternyata belum.
Dalam perjalanan pulang, ide dadakan kembali muncul—dan kali ini agak nyeleneh: lanjut ke Jembatan Cinta di Bekasi.
Meski waktu sudah mendekati maghrib, kami tetap mampir sebentar. Tidak lama memang—hanya foto-foto, menikmati pemandangan, lalu sempat naik perahu menuju kawasan mangrove di Sungai Rindu, Sembilangan.
Langit sudah mulai meredup, warna jingga perlahan hilang, and suasana berubah jadi syahdu.
Akhirnya, perjalanan benar-benar selesai. Kami kembali ke mess dengan badan lelah, tapi hati justru terasa penuh.
Hari itu mengajarkan satu hal sederhana:
kadang momen terbaik justru datang tanpa rencana.
Dan Minggu yang awalnya sepi, berubah jadi cerita yang layak untuk dikenang lama.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar