Menjelajahi sisa kejayaan dan misteri di Pulau Kelor, Onrust, dan Cipir.
Rencana itu akhirnya kami realisasikan pada hari Sabtu, 27 Juli 2019. Dari mess di Royale Residence II, Tarumajaya, Bekasi, kami berangkat menuju Gedung Biru, Dermaga Muara Kamal, Jakarta Utara. Cuaca cerah sejak pagi membuat semangat makin menggebu. Di dermaga, sambil menunggu peserta lain berkumpul, kami mengisi waktu dengan berfoto-foto. Gedung Biru yang sederhana itu terasa begitu hidup oleh tawa dan canda.
Perjalanan wisata ini kami lakukan bersama agen tur @maukemanasi. Kapal kayu menjadi kendaraan utama, menambah nuansa klasik yang pas dengan tujuan bersejarah. Sekitar pukul 09.00 kapal berangkat, mengarungi laut tenang dengan waktu tempuh sekitar 45 menit menuju destinasi pertama: Pulau Kelor.
Pulau Kelor menyambut dengan kesederhanaan. Luasnya hanya sekitar 0,28 km², sehingga rasanya mudah sekali mengelilinginya. Daya tarik utama pulau mungil ini adalah sisa-sisa Benteng Martello peninggalan Belanda. Benteng bundar dari bata merah itu masih berdiri gagah meski sebagian sudah runtuh dimakan usia. Kami pun berfoto di antara dinding-dinding tua yang seolah menyimpan banyak kisah.
Menjelang pukul 11.30, perjalanan dilanjutkan ke Pulau Onrust. Pulau ini lebih besar dan kaya akan jejak sejarah. Di sini terdapat reruntuhan bangunan Belanda, sisa benteng, hingga bekas asrama haji. Pulau Onrust pernah menjadi galangan kapal VOC, juga sempat digunakan pemerintah kolonial sebagai tempat karantina. Tak jauh dari reruntuhan, kami menemukan makam-makam tua yang memberi kesan hening dan penuh misteri.
Salah satu hal menarik di Onrust adalah cerita bahwa pulau ini sempat berfungsi sebagai rumah sakit karantina pada abad ke-19, ketika penyakit menular masih menjadi momok. Melangkah di antara pohon-pohon rindang dan bangunan tua, rasanya seperti kembali ke masa lalu. Banyak dari kami sibuk mendokumentasikan suasana, tak hanya dengan kamera tapi juga dengan drone yang terbang rendah.
Menjelang pukul 15.00, kapal kembali bergerak menuju Pulau Cipir. Pulau ini bersebelahan dengan Onrust, dipisahkan oleh selat kecil. Sesampainya di sana, kami menemukan suasana yang lebih santai. Pulau Cipir juga menyimpan bangunan bekas asrama haji yang dibangun pada era kolonial, sebagai tempat transit jemaah sebelum diberangkatkan ke tanah suci.
Selain bangunan bersejarah, di Pulau Cipir juga ada aktivitas wisata modern, seperti banana boat yang ramai dicoba wisatawan. Namun bagi saya pribadi, momen paling berkesan justru ketika duduk di tepi pantai. Angin laut sore hari berhembus lembut, deburan ombak berpadu dengan langit yang mulai berwarna keemasan. Ada rasa damai yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Menjelang Magrib, seluruh rombongan diajak berkumpul oleh pihak agen. Lampion pun dinyalakan bersama-sama, melayang perlahan ke udara sebagai simbol penutup perjalanan. Suasana jadi haru sekaligus indah, karena cahaya lampion berpadu dengan sisa cahaya senja.
Sekitar pukul 19.00, kapal kembali mengantar kami menuju Dermaga Muara Kamal. Perjalanan pulang terasa tenang, sebagian teman sudah terlelap di kursi panjang kapal kayu, sementara yang lain masih asyik membicarakan pengalaman hari ini. Rasanya satu hari benar-benar tak cukup untuk menjelajahi keindahan dan sejarah tiga pulau kecil di Kepulauan Seribu.
Meski singkat, perjalanan ini memberi pengalaman berharga. Dari Pulau Kelor yang mungil, Onrust yang penuh sejarah, hingga Cipir yang damai, semuanya menyisakan cerita yang akan selalu kami ingat. Mungkin inilah cara terbaik merayakan kebersamaan: berpetualang bersama, belajar sejarah, sambil menikmati keindahan laut biru Jakarta.








































Tidak ada komentar:
Posting Komentar