Memori awal tahun 2020: Menjemput ketenangan di Pantai Pasir Perawan, Pulau Pari.
Hari keberangkatan pun tiba. Perjalanan saya dimulai dari mess di Royale Residence II, Tarumajaya, Bekasi. Sendirian, saya mengendarai motor menuju mess teman di Segara City, Bekasi, yang menjadi titik kumpul pertama. Dari situ, kami—para pria—berangkat bersama setelah memesan Grab car untuk menjemput dua teman perempuan di daerah Harapan Mulya. Perjalanan pun berlanjut menuju Pelabuhan Muara Angke.
Di dalam mobil, sempat terjadi obrolan singkat dengan sopir Grab. Ia menuturkan kalau cuaca sejak pagi memang agak buruk, ombak dikhawatirkan tinggi. Benar saja, pagi itu langit mendung dengan gerimis tipis yang sesekali turun. Namun tekad kami sudah bulat. Cuaca mendung tak jadi alasan untuk membatalkan perjalanan. Bahkan, obrolan di dalam mobil justru membuat suasana semakin hangat.
Sekitar satu jam kemudian, kami tiba di Pelabuhan Muara Angke. Pagi itu suasana pelabuhan sangat ramai. Ratusan wisatawan tampak berdesakan, siap menuju berbagai pulau di Kepulauan Seribu. Ada yang ke Pulau Tidung, Pulau Pramuka, Pulau Harapan, Pulau Macan, hingga Pulau Pari yang menjadi tujuan kami. Meski area sekitar pelabuhan sempat tergenang banjir setinggi mata kaki akibat hujan, semua orang tetap semangat.
Sekitar pukul 9 pagi, kapal kayu yang kami tumpangi mulai melaju membelah birunya laut Jakarta. Di awal perjalanan, saya sempat mengabadikan momen dengan mengambil beberapa foto dan video. Suasana kapal cukup ramai, bercampur antara tawa wisatawan dan aroma khas laut. Namun, ada juga beberapa penumpang yang tampak mabuk laut. Gelombang pagi itu memang lumayan besar. Setelah hampir satu jam, saya sendiri mulai merasa pusing dan lemas, bukan karena mabuk laut, melainkan karena belum sempat sarapan sama sekali.
Ombak yang agak tinggi membuat laju kapal sedikit lebih lambat. Perjalanan yang seharusnya sekitar dua jam, menjadi hampir tiga jam. Namun ketika garis pantai Pulau Pari mulai terlihat dari kejauhan, semua rasa pusing dan sakit perut itu seolah hilang begitu saja. Hembusan angin laut yang segar saat kapal merapat ke dermaga benar-benar menjadi penyembuh alami.
Begitu tiba, kami disambut tour guide yang memberikan arahan singkat. Karena sedikit tertinggal dari rombongan besar, kelompok kami sempat salah arah. Kami harus berjalan kaki sekitar 30 menit sebelum akhirnya sampai juga di Pantai Pasir Perawan—ikon Pulau Pari yang terkenal. Begitu tiba di pantai, hal pertama yang kami lakukan tentu saja berfoto bersama. Setelah itu, perut yang lapar segera diisi dengan makan siang sederhana berupa nasi goreng.
Usai makan siang, kami mulai menjelajahi keindahan Pantai Pasir Perawan. Hamparan pasir putih yang bersih, air laut yang jernih, dan suasana yang masih cukup alami benar-benar memanjakan mata. Selama hampir empat jam, kami hanya menikmati pantai ini—berjalan di sepanjang garis pantai, bermain air, dan tentu saja berfoto di berbagai spot menarik. Rasanya waktu berjalan begitu cepat di tempat seindah ini.
Menjelang sore, sekitar pukul 4, rombongan mulai berkumpul kembali di dermaga. Hati sebenarnya masih ingin berlama-lama, tapi perjalanan pulang sudah menunggu. Kapal kayu kembali membawa kami menyusuri lautan menuju Jakarta. Kali ini perjalanan terasa lebih singkat, mungkin karena badan sudah lelah. Sekitar pukul setengah tujuh malam, kami akhirnya kembali tiba di Pelabuhan Muara Angke.
Hari itu menjadi pengalaman tak terlupakan. Perjalanan penuh cerita, dari obrolan ringan di belakang kantor hingga akhirnya benar-benar menjejakkan kaki di Pulau Pari. Meski hanya sehari, kebersamaan bersama teman-teman membuat perjalanan ini terasa istimewa. Dan tentu saja, Pulau Pari dengan Pantai Pasir Perawan akan selalu menjadi salah satu memori indah di awal tahun 2020 ini.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar