Cari Blog Ini

Jumat, 24 Februari 2012

Mengagungkan Polisi Tampan di Tengah Bobroknya Pelayanan

 Jumat, 24 Februari 2012

Belakangan ini, ruang publik kita kembali disesaki oleh narasi glorifikasi sosok aparat kepolisian yang viral hanya karena aspek fisik. Mulai dari polisi tampan asal Bandung yang mendadak jadi pesohor layar kaca, hingga fenomena polisi "artis YouTube" yang akhirnya menanggalkan seragam demi dunia hiburan. Tak ketinggalan, kemunculan presenter lalu lintas yang seolah-olah sengaja dihadirkan untuk memikat hati penonton pria.

Namun, muncul sebuah pertanyaan fundamental: apa urgensi di balik masifnya pemberitaan polisi tampan atau cantik ini? Bagi saya, fenomena ini menunjukkan betapa media kita sedang "kurang pekerjaan". Membesar-besarkan hal yang bersifat superfisial seperti ini adalah tindakan mubazir yang sama sekali tidak membawa manfaat nyata bagi publik.

"Ketimbang mendewakan ketampanan yang hanya setebal kulit, media seharusnya lebih berani mengekspos kemiskinan struktural, hancurnya infrastruktur, dan pendidikan yang kian tak terjangkau akibat korupsi."

Ada jauh lebih banyak isu krusial yang perlu dikawal. Bayangkan jika durasi tayang "polisi ganteng" dialokasikan untuk menyoroti nasib jalan raya yang rusak parah atau jembatan ambrol yang terus memakan korban jiwa. Memberitakan penderitaan rakyat akibat sistem yang tidak berjalan akan memberikan tekanan positif bagi pemerintah untuk bekerja, bukan sekadar mengajak masyarakat mengagumi wajah yang bersifat sementara.

Secara pribadi, saya merasa risih dengan pemberitaan yang terlampau lebay ini. Pola pikir masyarakat seolah digiring untuk menjadi kolot dan dangkal. Padahal, kualitas seorang pengayom masyarakat seharusnya dinilai dari integritas dan pelayanan, bukan dari seberapa fotogenik wajah mereka di depan kamera.

Pengalaman pahit saya dengan praktik pungli yang melibatkan oknum kepolisian—yang sudah pernah saya bahas sebelumnya—menjadi bukti bahwa ketampanan tidak berkorelasi dengan kejujuran. Di akhir catatan ini, saya teringat seloroh legendaris almarhum Gus Dur: di Indonesia hanya ada tiga polisi jujur, yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Polisi Hoegeng. Bagaimana menurut Anda?

logoblog

Thanks for reading Mengagungkan Polisi Tampan di Tengah Bobroknya Pelayanan

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar