Cari Blog Ini

Rabu, 18 Maret 2009

Petualangan Menuju LPMP Lebak, Banten

 Rabu, 18 Maret 2009
CATATAN PERJALANAN

Perjalanan menuju Lebak, Banten (Maret 2009).

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari kisah yang pernah saya bagikan sebelumnya. Jika belum sempat membacanya, ada baiknya membaca terlebih dahulu di sini agar tidak kebingungan mengikuti alur cerita ini.

Perjalanan dimulai dari kawasan Grogol, Jakarta Barat—tepatnya di bawah jalan layang yang selalu ramai dan padat. Jika Anda belum pernah ke sana, cobalah sesekali berkunjung. Suasananya khas, semrawut tapi menggambarkan denyut nadi kota.

Hari itu, 1 Maret 2009, saya bersama Hasyim Asyari hendak menuju Lebak, Banten. Namun, kami kebingungan mencari bus kota yang mengarah ke sana. Kami bahkan sempat bertanya kepada seorang polisi yang berjaga, namun ia pun tak tahu jawabannya—mungkin karena baru bertugas di daerah itu.

Selama hampir satu jam kami mondar-mandir di bawah jalan layang, mencari bus yang tepat. Namun, tak satu pun yang menuju Lebak. Di tengah kebingungan, sebuah kebetulan terjadi. Seorang teman kuliah yang dulu sekelas dengan Hasyim, tiba-tiba melintas dengan sepeda motornya. Kami tidak melihatnya, tapi ia mengenali kami sekilas. Untuk memastikan, ia berhenti dan menelepon saya.

Kami pun bertemu di bawah jembatan penyeberangan, sekitar seratus meter dari tempat kami mondar-mandir. Namanya Basuki, perantau dari Purworejo yang lebih dulu menetap di Jakarta sejak lulus kuliah pada Oktober 2008. Ia sudah cukup mengenal seluk-beluk kawasan itu. Kami sempat berbincang sejenak—sekitar 15 menit—sebelum Basuki menunjukkan arah dan merekomendasikan bus menuju Lebak. Setelah itu, kami berpisah.

Perjalanan dilanjutkan ke Terminal Kalideres. Di sinilah sebuah kejadian menegangkan terjadi. Bus yang kami tumpangi tiba-tiba masuk ke jalur busway dengan kecepatan tinggi, meski kondisi jalanan sedang macet. Sopirnya ugal-ugalan. Saat mencoba keluar dari jalur busway, separator beton yang tinggi pun diterjang, hingga akhirnya bus menyenggol mobil boks di sampingnya.

Ketegangan memuncak ketika sopir bus mencoba melarikan diri, dan mobil boks itu pun mengejarnya. Seperti adegan kejar-kejaran dalam film. Di tengah aksi itu, sebuah mobil patroli polisi lewat. Kecepatan bus sempat menurun, tapi setelah melewati polisi, sopir kembali tancap gas. Seru, sekaligus membuat jantung berdebar.

Akhirnya sopir bus menyerah. Adu mulut terjadi di pinggir jalan. Penumpang hanya empat orang—termasuk saya dan Hasyim—dan kami semua diturunkan begitu saja. Kami merasa dirugikan karena sudah membayar sesuai tarif, tetapi diturunkan di tempat yang tidak semestinya. Namun, demi keselamatan, kami memilih mencari bus lain untuk melanjutkan perjalanan.

Singkat cerita—meskipun sebenarnya tidak singkat—perjalanan dengan bus berikutnya juga menyimpan kejadian unik lainnya. Akibat berbagai insiden dan keterlambatan, kami baru tiba di Banten lebih lambat dari rencana awal. Tapi yang penting, akhirnya kami berhasil menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Provinsi Banten.

Sebuah baliho besar menyambut kami dengan tulisan: Selamat Datang di Provinsi Banten. Dari Terminal Rangkasbitung—jika ingatan saya tidak salah—kami melanjutkan perjalanan ke lokasi pelatihan di LPMP Lebak. Kami naik ojek seharga Rp12.500 per orang.

Setibanya di LPMP, perasaan lega menyelimuti. Inilah tempat kami akan mengikuti pelatihan selama 17 hari ke depan, hingga 17 Maret 2009. Meski lokasi LPMP cukup terpencil—dikelilingi perkebunan kelapa sawit dan jauh dari pusat kota—soal makan tidak perlu dikhawatirkan. Setiap hari, kami mendapatkan konsumsi gratis secara penuh selama masa pelatihan.

Di bawah ini adalah beberapa dokumentasi foto kegiatan selama di Lebak, Banten.

logoblog

Thanks for reading Petualangan Menuju LPMP Lebak, Banten

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar