Publik belakangan ini digemparkan oleh fenomena pengobatan alternatif Ponari, seorang bocah sekolah dasar asal Jombang, Jawa Timur. Melalui media "batu ajaib" yang konon didapatkan saat tersambar petir, ribuan orang dari berbagai penjuru tanah air berbondong-bondong mendatangi kediamannya demi mengharapkan kesembuhan instan. Sayangnya, antusiasme yang luar biasa ini harus dibayar mahal dengan insiden desak-desakan yang bahkan memakan korban jiwa.
Jika kita menelaah lebih dalam, fenomena ini menyisakan pertanyaan besar: mengapa masyarakat kita cenderung memiliki mentalitas demikian? Ada beberapa faktor sosiologis dan ekonomi yang melatarbelakangi perilaku tersebut.
Pertama, tingginya minat terhadap pengobatan alternatif tidak lepas dari mahalnya biaya layanan kesehatan medis bagi rakyat kecil. Pengobatan alternatif dianggap sebagai solusi praktis dan ekonomis, meski secara medis khasiatnya belum teruji. Namun, yang menjadi persoalan adalah cara menyikapinya; kepercayaan berlebih pada sesuatu yang instan seringkali mengabaikan logika kesehatan.
"Keterbatasan akses terhadap pendidikan tinggi dan ekonomi yang belum mapan membuat sebagian masyarakat mudah tergiur pada kekuatan magis, bahkan hingga mengabaikan nalar sehat."
Hal yang lebih memprihatinkan adalah ketika nalar sehat mulai ditinggalkan. Kita melihat bagaimana warga yang tidak mendapatkan celupan batu ajaib rela membawa pulang tanah becek hingga air comberan di sekitar rumah Ponari. Mereka meyakini bahwa sisa pembuangan tersebut memiliki khasiat serupa. Secara medis, tindakan mengoleskan air kotor ke tubuh justru berisiko menimbulkan penyakit baru, bukan menyembuhkannya.
Ketergantungan pada kekuatan magis ini seolah menggiring masyarakat menjauh dari realitas. Secara spiritual, kita tentu memahami bahwa kesembuhan mutlak datang dari Allah SWT, Sang Pencipta Alam Semesta. Namun, mencari kesembuhan juga harus dibarengi dengan ikhtiar yang masuk akal dan cara-cara yang dibenarkan secara medis maupun agama.
Pada akhirnya, rendahnya tingkat pendidikan akibat biaya sekolah yang masih tinggi menjadi akar masalah. Masyarakat kelas bawah seringkali hanya bisa "gigit jari" melihat fasilitas yang ada. Sebagai kaum intelektual yang melek teknologi, sudah saatnya kita bersama-sama mengedukasi dan mengubah pola pikir masyarakat agar tidak lagi menggantungkan harapan pada hal-hal magis yang tidak rasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar